<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Candi</title>
	<atom:link href="http://www.candi.web.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.candi.web.id</link>
	<description>Zamrud Khatulistiwa</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 Nov 2011 17:48:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Gunung Sindoro</title>
		<link>http://www.candi.web.id/gunung/gunung-sindoro/</link>
		<comments>http://www.candi.web.id/gunung/gunung-sindoro/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Nov 2011 01:29:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Candi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gunung]]></category>
		<category><![CDATA[Kledung]]></category>
		<category><![CDATA[Sigedang]]></category>
		<category><![CDATA[Sindara]]></category>
		<category><![CDATA[Sindoro]]></category>
		<category><![CDATA[Sundoro]]></category>
		<category><![CDATA[Temanggung]]></category>
		<category><![CDATA[Wonosobo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.candi.web.id/?p=342</guid>
		<description><![CDATA[Gunung  Sindoro atau  Sundoro mempunyai ketinggian 3.150 meter di atas permukaan laut,  terletak di Jawa Tengah, Indonesia, dengan Temanggung sebagai kota terdekat. Gunung Sindoro terletak berdampingan dengan Gunung Sumbing. Gunung Sindoro sering menjadi tujuan utama para Pecinta Alam, terutama untuk melakukan ekspedisi Triple S (Slamet, Sumbing, Sindoro). Medan yang terjal, panasnya sengatan matahari serta tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Gunung </strong> <strong>Sindoro</strong> atau  <strong>Sundoro</strong> mempunyai ketinggian 3.150 meter di atas permukaan laut,  terletak di Jawa Tengah, Indonesia, dengan Temanggung sebagai kota terdekat. Gunung Sindoro terletak berdampingan dengan Gunung Sumbing.</p>
<p><a href="http://www.candi.web.id/wp-content/uploads/2011/11/gunungsindoro02.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-355" title="gunungsindoro02" src="http://www.candi.web.id/wp-content/uploads/2011/11/gunungsindoro02.jpg" alt="" width="600" height="327" /></a></p>
<p><strong>Gunung Sindoro</strong> sering menjadi tujuan utama para Pecinta Alam, terutama untuk melakukan ekspedisi Triple S (Slamet, Sumbing, Sindoro). Medan yang terjal, panasnya sengatan matahari serta tidak adanya sumber air menjadi tantangan utama dalam pendakian. Seringkali pendaki tidak bisa melanjutkan pendakian karena kehabisan air minum. <em>Sebaiknya Pendikian Gunung ini di lakukan pada musim penghujan, seperti bulan November, Desember dan Januari.</em></p>
<p><strong>Jalur Pendakian Sindoro Melalui Kledung</strong></p>
<p>(Sumber: http://apvalentine.students.uii.ac.id)</p>
<p>Tempat pendaftaran di basecamp Kledung yang juga menjadi markas Tim SAR benama GRASINDO ini menyediakan tempat untuk menginap,  kamar mandi, menjual kaos, stiker, gantungan kunci, makanan dan minuman. Pendaki dapat memesan makanan bungkus sebagai bekal di perjalanan, karena memasak dan berkemah di gunung akan memerlukan persediaan air yang banyak.</p>
<p>Pendakian ke gunung <strong>Sindoro</strong> sebaiknya dilakukan pada <strong>malam hari</strong> karena untuk menghindarai panas dan debu, serta untuk menghemat air minum. Perjalanan diawali dari basecamp melewati perkampungan penduduk. Selanjutnya menapaki jalan berbatu sejauh sekitar 2 km melintasi kebun penduduk yang didominasi oleh tanaman jagung. Track awal landai kemudian sedikit menanjak ketika memasuki kawasan hutan pinus menjelang <strong>Pos I  Sibajing</strong>, dengan ketinggian <em>1.900 mdpl</em>.</p>
<p>Dari <strong>Pos I</strong> ini kita berbelok ke kanan , jangan mengambil jalan lurus karena buntu. Kita harus mendaki dan menuruni 2 buah punggungan gunung. Jalur bergeser ke punggungan yang lain melintasi tiga buah jembatan kayu. Pohon lamtoro dan pinus yang cukup lebat di sepanjang jalur cukup membuat suasana menjadi sejuk.<strong> Pos II</strong> berada pada ketinggian <em>2.120 mdpl</em>.</p>
<p>Menuju <strong>Pos III</strong> medan mulai terjal dan berbatu, terdapat sebuah batu yang sangat besar di tengah jalan setapak. Pendaki dapat beristirahat di atas batu sambil menikmati pemandangan alam. Jalan tanah berdebu bercampur kerikil seringkali menyulitkan pendakian. Medan mulai terbuka kembali sehingga di siang hari akan terasa panas. Gunung sumbing sudah mulai kelihatan, sangat tingi dan besar sehingga bisa menjadi hiburan selama pendakian yang melelahkan.</p>
<p>Pos III Seroto berada pada ketinggian 2.530 mdpl, lokasinya terbuka dan cukup luas untuk mendirikan belasan tenda. Dari sini kita akan menyaksikan pemandangan yang sangat indah ke arah gunung Sumbing. Pemandangan lereng terjal gunung Sindoro serta puncak bayangan yang nampak di depan mata sangat indah untuk dinikmati.</p>
<p>Dari Pos III pendakian dilanjutkan dengan melintasi jalan berbatu yang terjal disertai dengan kerikil dan debu. Meskipun medan sangat berat kawasan ini agak rindang karena banyak ditumbuhi oleh pohon lamtoro dan tanaman perdu. Jalur kembali terbuka melintasi medan yang banyak terdapat batu-batu besar. Setelah mencapai puncak bayangan pertama, pendaki harus menghadapi puncak bayangan berikutnya yang kelihatan sangat tinggi dan curam.</p>
<p>Menuju puncak bayangan ke dua yang terjal dengan medan yang berbatu sungguh sangat melelahkan, terutama bila dilakukan pendakian pada siang hari akan terasa sangat panas dan kita akan sering kehausan. Beruntung medan yang kita lewati ditumbuhi oleh pohon lamtoro dalam jarak yang agak dekat sehingga bisa digunakan untuk berteduh. Lintasan berikutnya melewati medan berbatu dengan tanaman edelweis. Sesampainya di puncak bayangan kedua setelah melewati hutan edelweis, medan kembali terbuka dan harus melintasi batu-batu besar. Puncak gunung yang sesunguhnya masih belum nampak karena tertutup pandangan oleh pohon-pohon edelweis.</p>
<p>Jalur akhir menuju puncak ini medannya sangat berat, selain terjal dan terbuka, panas matahari sangat terasa menyengat, kelelahan dan kehausan menyertai para pendaki. Batu-batu besar menjadi pijakan di sepanjang lintasan. Di siang hari pasir dan batu terasa sangat panas bila disentuh, terutama batu yang berwarna hitam bila dipegang terasa sangat panas sekali. Tidak mengherankan jika di gunung Sindoro ini sering terjadi kebakaran. Menjelang puncak pohon edelweis banyak tumbuh sehingga bisa menjadi tempat berlindung dari teriknya matahari.</p>
<p>Puncak gunung Sindoro tidak terlalu luas tetapi melingkar mengelilingi kawah. Banyak terdapat batu-batu besar dan ditumbuhi tanaman edelweis. <em>Dari puncak gunung Sindoro pemandangan ke arah selatan terlihat gunung Sumbing sangat indah sekali</em>. Sedikit ke arah timur nampak gunung Merbabu dan gunung Merapi yang diselimuti awan.</p>
<p>Kawah gunung Sindoro cukup luas, pendaki dapat turun ke dasar kawah. Di musim penghujan kawah ini akan terisi oleh air membentuk danau kawah, sehingga pendaki dapat mandi serta mengambil air bersih dari danau kawah.</p>
<p><strong>Jalur Pendakian Sindoro Melalui Sigedang</strong></p>
<p>Sumber: http://gsgumilar.blogspot.com/2011/06/pendakian-gunung-sindoro-jalur-sigedang.html</p>
<p>Untuk mencapai desa Sigedang dari arah Wonosobo naik bus jurusan Dieng, turun di pertigaan Rejosari-<em>arah ke Tambi</em>. Selanjutnya bisa jalan kaki atau naik ojek ke desa Sigedang, kurang lebih 4 km. Begitu sampai di Sigedang saya sarankan untuk menuju rumah pak Amin, juru kunci Sindoro. Disini kita mengurus perijinan dan bisa juga mengisi persediaan air karena sepanjang jalur sampai puncak tidak kita jumpai sumber mata air.</p>
<div>Dari desa sigedang perjalanan dilanjutkan ke arah perkebunan teh melewati jalan aspal sekitar 20 menit. Kemudian berbelok ke kanan melewati jalanan berbatu menyusuri perkebunan teh. Diperkebunan teh ini banyak sekali terdapat persimpangan. Bagi pendaki yang belum pernah mendaki <a href="http://www.gsgumilar.blogspot.com/2011/06/pendakian-gunung-sindoro-jalur-sigedang.html"><strong>Gunung Sindoro</strong></a> melewati jalur ini ada baiknya mencari teman perjalanan yang paham jalur Sigedang. Sepanjang perkebunan terdapat 2 POS dengan bangunan semi permanen yang bisa dipakai untuk istirahat. 2 jam setelah melewati perkebunan teh kita akan sampai pada batas perkebunan dengan hutan. Kemudian perjalanan dilanjutkan ke POS 3.</div>
<div>POS 3 berada ditengah tengah perjalanan menuju puncak. Disini terdapat bangunan yang sudah roboh, namun cukup untuk mendirikan 3 tenda dome. Jika fisik kurang mendukung sebaiknya mendirikan camp di pos ini. Karena perjalanan selanjutnya selama 3-4 jam ke puncak kita tidak akan menemukan selter untuk mendirikan tenda. Kurang lebih 2 jam dari sini kita akan sampai di Watu Susu. Watu Susu merupakan 2 buah batu besar yang oleh warga setempat dianggap sebagai buah dada <a href="http://www.gsgumilar.blogspot.com/2011/06/pendakian-gunung-sindoro-jalur-sigedang.html"><em>Gunung Sindoro</em></a>. Menurut kepercayaan warga setempat, <a href="http://www.gsgumilar.blogspot.com/2011/06/pendakian-gunung-sindoro-jalur-sigedang.html"><strong>Gunung Sindoro</strong></a> adalah gunung perempuan dan suaminya adalah Gunung Sumbing dengan anak Gunung Kembang.</div>
<div>
<div>Dari Watu Susu perjalanan kepuncak masih sekitar 1 sampai 1,5 jam lagi. Melewati jalan bebatuan yang licin dan kadang batu longsor saat kita injak. Pendaki harus hati hati terutama yang berjalan didepan agar tidak membahayakan pendaki di belakangnya. Setelah itu sampailah kita di kawasan puncak <a href="http://www.gsgumilar.blogspot.com/2011/06/pendakian-gunung-sindoro-jalur-sigedang.html"><span style="text-decoration: underline;">Gunung Sindoro</span></a>.</div>
<p>Di kawasan puncak kita tidak akan bingung untuk mendirikan tenda karena <a href="http://www.gsgumilar.blogspot.com/2011/06/pendakian-gunung-sindoro-jalur-sigedang.html"><em>Gunung Sindoro</em></a> memiliki dataran luas pada puncaknya, sekitar 400&#215;300 meter. Dibagian timur terdapat dua kawah seluas 200&#215;150 meter, dan dibagian barat terdapat dataran Segoro Wedi dan Banjaran dan dua dataran lain yang belum bernama yang merupakan sisa kawah utama. Pada saat curah hujan tinggi kedua kawah ini terdapat banyak air yang bisa kita gunakan untuk minum dan memasak. Genangan air tersebut bersih dan dapat digunakan karena tidak terdapat belerang disini.</p>
<p>Ketika cuaca cerah, dari sini akan terlihat jelas Gunung Sumbing, Merbabu, Slamet dan kawasan Dataran Tinggi Dieng.</p>
</div>
<p><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.candi.web.id%2Fgunung%2Fgunung-sindoro%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe><br />
<h4>Kata Kunci Dari Mesin Pencari :</h4>
<ul>
<li>sejarah gunung sindoro</li>
<li>gunung sindoro</li>
<li>sejarah sindoro</li>
<li>aktivitas gunung sindoro 2011</li>
<li>status gunung sindoro</li>
<li>cerita gunung sindoro</li>
<li>riwayat gn sindoro jateng</li>
<li>artikel gunung sindoro sumbing</li>
<li>asal gunung sendoro</li>
<li>photo kota medan dan alam nya</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.candi.web.id/gunung/gunung-sindoro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gunung Penanggungan</title>
		<link>http://www.candi.web.id/gunung/gunung-penanggungan/</link>
		<comments>http://www.candi.web.id/gunung/gunung-penanggungan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Nov 2011 20:27:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Candi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gunung]]></category>
		<category><![CDATA[Babelan]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[Kraton]]></category>
		<category><![CDATA[Majapahit]]></category>
		<category><![CDATA[Menara]]></category>
		<category><![CDATA[Mojopoit]]></category>
		<category><![CDATA[Musium]]></category>
		<category><![CDATA[Penanggungan]]></category>
		<category><![CDATA[Tumpengan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.candi.web.id/?p=321</guid>
		<description><![CDATA[Gunung Penanggungan (ketinggian 1.653 meter di atas permukaan laut) merupakan sebuah gunung yang terdapat di Pulau Jawa, Indonesia. Disekeliling gunung penanggungan terdapat  bukit-bukit disekitarnya yaitu, Bukit Bekel (1238 m), Gajah Mungkur (1084 m), Sarah Klopo (1235 m), dan Kemuncup (1238 m).]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Gunung Penanggungan</strong> (ketinggian 1.653 meter di atas permukaan laut) merupakan sebuah gunung yang terdapat di Pulau Jawa, Indonesia. Disekeliling gunung penanggungan terdapat  bukit-bukit disekitarnya yaitu, Bukit <em>Bekel (1238 m),</em> <em>Gajah Mungkur (1084 m), Sarah Klopo (1235 m)</em>, dan <em>Kemuncup (1238 m).</em></p>
<p>Letak gunung penanggungan berada di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, berjarak kurang lebih 25 km dari Surabaya. Gunung Penanggungan berada pada satu kluster dengan Gunung Arjuno dan Gunung Welirang.</p>
<p><strong>Catatan tentang gunung penanggungan dari blog http://alifiasuharto.blogspot.com/</strong></p>
<div id="post-body-1928620556577675006">
<p><a href="http://4.bp.blogspot.com/_3nwnL6iZ4js/ShpSAWmadrI/AAAAAAAAABQ/ElZGu4jIx6I/s1600-h/penanggungan2.JPG"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5339670474221319858" class="alignleft" style="border: 0pt none;" src="http://4.bp.blogspot.com/_3nwnL6iZ4js/ShpSAWmadrI/AAAAAAAAABQ/ElZGu4jIx6I/s320/penanggungan2.JPG" alt="" width="320" height="240" border="0" /></a>Tampak hampir tidak ada yang istimewa kalau kita melihat gunung ini seperti tampak dalam photo disamping. Tak ubahnya gunung-gunung yang lain yang ada di negeri kita Indonesia ini atau bahkan dika<a href="http://3.bp.blogspot.com/_3nwnL6iZ4js/ShpSAs7QQNI/AAAAAAAAABY/lCQpMsdg0Ls/s1600-h/P5280528a.JPG"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5339670480214311122" class="alignleft" style="border: 0pt none;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3nwnL6iZ4js/ShpSAs7QQNI/AAAAAAAAABY/lCQpMsdg0Ls/s320/P5280528a.JPG" alt="" width="320" height="240" border="0" /></a>wasan asia tenggara. Tapi kalau kita benar-benar mengamati ada keunikan tersendiri dari gunung ini yaitu bentuknya yang hampir kerucut sempurna bagaikan nasi tumpeng.</p>
<div>Bila kita menempuh perjalanan dari Surabaya ke Malang maupun ke Pasuruhan, Probolinggo hingga Bali , apabila cuaca tidak berkabut bila telah sampai dkawasan Porong , anda akan langsung dapat melihat gunung ini disebelah kanan anda dan akan terus menemani anda hingga Pandaan bila anda menuju ke arah Malang dan hingga Pasuruhan apabila anda menuju ka arah Probolinggo. Dan apabila kita amati terus menerus selama perjalanan anda bentuk gunung tersebut hampir tidak akan berubah. Padahal apabila anda masih berada di Sidoarjo ataupun Porong posisi anda berada disebelah Utara dari gunung ini dan bila anda sampai di jalan raya Gempol arah ke Pandaan untuk anda yang mau ke Malang dan Gempol arah ke Pasuruhan maka posisi anda sudah berada di sebelah Timur dari gunung ini.</div>
<div>Dan apabila anda berada di kawasan Trawas, Mojokerto anda sudah berada di sebelah Selatan dari gunung ini (seperti yang tampak pada Photo diatas yang diambil dari Grand Trawas Hotel). Dan apabila anda berada di kota Mojokerto anda telah berada di sebelah Barat dari gunung tersebut.</div>
</div>
<p><strong>Kraton Majapahit</strong></p>
<p>Kajian yang dilakukan <strong>Turangga Seta</strong> mengindikasikan bahwa gunung penanggungan adalah area kraton <strong>Mojopoit/Majapahit</strong> yang ditimbun. Konfigurasi kraton Mojopoit itu  menyerupai Musium Purna Bhakti Pertiwi yang terdapat di Taman Mini Indonesia Indah(TMII). Salah satu adalah sebuah upaya dari leluhur untuk mengingatkan akan adanya bangunan berbentuk menara babelan  adalah melalui tradisi tumpengan yang masih dikenal dan dijalankan hingga saat ini.</p>
<div id="attachment_335" class="wp-caption aligncenter" style="width: 539px"><a href="http://www.candi.web.id/wp-content/uploads/2011/11/tmii-penangungan.jpg"><img class="size-medium wp-image-335 " title="tmii-penangungan" src="http://www.candi.web.id/wp-content/uploads/2011/11/tmii-penangungan-300x104.jpg" alt="" width="529" height="119" /></a>
<p class="wp-caption-text">Sebelah kiri adalah tumpeng dan sebelah kanan Musium Purna Bhakti Pertiwi yang merupakan miniatur dari Menara Babelan</p>
</div>
<p>Ulasan secara detail tentang menara babelan dapat diakses pada <a title="Menara Babelan Nuswantara" href="http://lakubecik.org/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=13:menara-babelan-di-nuswantara&amp;catid=1:artikel&amp;Itemid=2" target="_blank">lakubecik.org</a></p>
<p>&nbsp;<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.candi.web.id%2Fgunung%2Fgunung-penanggungan%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe><br />
<h4>Kata Kunci Dari Mesin Pencari :</h4>
<ul>
<li>gunung penanggungan</li>
<li>menara babelan</li>
<li>candi penanggungan</li>
<li>gunung penanggungan jawa timur</li>
<li>penanggungan</li>
<li>gunug welirang trawas mojokerto</li>
<li>gunung penanggungan mojokerto</li>
<li>letak gunung-gunung dijawa timur</li>
<li>gunung di kabupaten mojokerto</li>
<li>gambar gunung penanggungan</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.candi.web.id/gunung/gunung-penanggungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Danau Sentani</title>
		<link>http://www.candi.web.id/danau/danau-sentani/</link>
		<comments>http://www.candi.web.id/danau/danau-sentani/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Mar 2011 14:31:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Candi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Danau]]></category>
		<category><![CDATA[Jayapura]]></category>
		<category><![CDATA[Papua]]></category>
		<category><![CDATA[Sentani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.candi.web.id/?p=296</guid>
		<description><![CDATA[Danau Sentani di Jayapura, Papua terletak antara 20.33 hingga 2041 LS dan 1400.23 sampai 1400 38 BT. Berada 70 – 90 m diatas permukaan laut. Terletak juga diantara pegunungan Cyclops. Merupakan danau Vulkanik. Sumber airnya berasal dari 14 sungai besar dan kecil dengan satu muara sungai, Jaifuri Puay. Diwilayah barat, Doyo lama dan Boroway, kedalaman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Danau Sentani di Jayapura, Papua terletak antara 20.33 hingga 2041 LS dan 1400.23 sampai 1400 38 BT. Berada 70 – 90 m diatas permukaan laut. Terletak juga diantara pegunungan Cyclops. Merupakan danau Vulkanik. Sumber airnya berasal dari 14 sungai besar dan kecil dengan satu muara sungai, Jaifuri Puay. Diwilayah barat, Doyo lama dan Boroway, kedalaman danau sangat curam. Sedangkan sebelah timur dan tengah, landai dan dangkal, Puay dan Simporo. Disini juga terdapat hutan rawa di daerah Simporo dan Yoka. Dalam beberapa catatan disebutkan, dasar perairannya berisikan substrat lumpur berpasir (humus). Pada per-airan yang dangkal, ditumbuhi tanaman pandan dan sagu. Luasnya sekitar 9.360 Ha dengan kedalaman rata rata 24,5 meter. Disekitaran danau ini terdapat 24 kampung. Tersebar dipesisir dan pulau-pulau kecil yang ada ditengah danau. (Sumber: <a href="http://mepow.wordpress.com/">http://mepow.wordpress.com</a>)</p>
<p><a href="http://www.candi.web.id/wp-content/uploads/2011/03/danau-sentani01.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-299" title="danau-sentani01" src="http://www.candi.web.id/wp-content/uploads/2011/03/danau-sentani01.jpg" alt="" width="600" height="261" /></a></p>
<p><strong>Cerita Rakyat </strong></p>
<p>Hanya dengan sebuah harta karun berupa gelang Kristal (Heba), dan tiga biji manik-manik yang dalam bahasa suku Sentani disebut dengan Hawa, Hae dan Naro. Ondofolo (Kepala Suku) Walli bersama kerabatnya Hoboy, membeli air di penguasa pegunungan Robonsolo (Sekarang Cycloop) bernama Dobonay pada masa lalu, untuk meminta air bagi rakyatnya.</p>
<p>Ondoafi Wali dan Hoboi hidup di atas satu bukit yang disebut Yomokho di Kampung Donday, Sentani. Di atas bukit ini tidak ada air sebagai sumber kehidupan, maka Ondofolo bersama Hoboy naik ke Gunung Robonsolo untuk menghadap Dobonai, penguasa air dengan membawa sejumlah harta karun untuk membeli air.</p>
<p>Cerita berawal ketika masa lalu terjadi bencana kekeringan yang melanda seluruh daerah Sentani, dan berdampak pada kehidupan rakyat Sentani. Tak menunggu lama, Ondofolo langsung mengajak Hoboy untuk pergi membeli air keabadian (air yang tak pernah berhenti mengalir) kepada Dobonay di Gunung Robonsolo.</p>
<p>Air itupun dibeli dari Dobonay, yang pada saat itu pembayarannya dilakukan kepada kedua anak Dobonay, yakni Bukunbulu dan Robonway. Meski sempat terjadi kesalahan dalam pembayaran, tetapi saat itu permasalah tersebut dapat ditengahi oleh Dobonay. Setelah mendapat air, Ondofolo Wali bersama kerabatnya pulang ke rumah.</p>
<p>Sebelum pamit, Dobonay berpesan agar di perjalanan nanti, jika bertemu hewan jangan diburu. Sebab, jika dilanggar, akan terjadi cobaan bagi mereka berdua. Tetapi karena sifat manusia, aturan tersebut dilanggar, Ondofolo Wali dan Hoboi melupakan pesan Dobonay, justru keduanya memburu seekor hewan yakni burung Kasuari.</p>
<p>Sebuah tembakan anak panah dari Haboy berhasil mengenai sasaran, namun alangkah kagetnya kedua manusia itu, sebab burung kasuari tersebut langsung menghilang bersamaan dengan air keabadian yang dibawa oleh keduanya.</p>
<p>Bersamaan dengan peristiwa tersebut, datanglah sebuah air bah dan menghanyutkan semua benda-benda yang berada disekitar tempat tersebut, dan selanjutnya air bah itu membentuk telaga raksasa yang saat ini dikenal dengan Danau Sentani.</p>
<p>Kejadian ini harus dibayar mahal dengan tenggelamnya anak Ondofolo Wali. Namun keteguhan dan rasa bertanggung jawab kepada rakyatnya, sang Ondofolopun sempaty meratap berlama-lama atas kematian anaknya itu.</p>
<p>Namun, dirinya langsung mengajak seluruh rakyatnya untuk secara bersama-sama menyampaikan ucapan syakur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dengan pemberian telaga raksasa yang terbentang dari Nolobu (Timur) Kampung Yokiwa hingga Waibu (Barat) Kampung Doyo dan sekitarnya yang berada hingga saat ini.</p>
<p>Dengan peristiwa ini, Ondofolo Wali menyadari bahwa untuk memperoleh sesuatu yang baik harus ada pengorbanan, sekali pun itu adalah orang yang sangat dicintai. (<em>Sumber: Kabarindonesia.Com</em>)<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.candi.web.id%2Fdanau%2Fdanau-sentani%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe><br />
<h4>Kata Kunci Dari Mesin Pencari :</h4>
<ul>
<li>danau sentani</li>
<li>danau sentani terletak di pulau</li>
<li>danau sentani di pulau</li>
<li>pembentukan danau sentani di papua</li>
<li>cerita danau sentani</li>
<li>cerita danau sentani jayapura</li>
<li>sejarah terjadinya danau sentani</li>
<li>candi prambanan story</li>
<li>manik-manik suku sentani</li>
<li>sejarah danau sentani</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.candi.web.id/danau/danau-sentani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Danau Toba</title>
		<link>http://www.candi.web.id/danau/danau-toba/</link>
		<comments>http://www.candi.web.id/danau/danau-toba/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Mar 2011 14:05:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Candi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Danau]]></category>
		<category><![CDATA[Atlantis]]></category>
		<category><![CDATA[Supervolcano]]></category>
		<category><![CDATA[Toba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.candi.web.id/?p=290</guid>
		<description><![CDATA[Danau Toba adalah sebuah danau vulkanik dengan ukuran panjang 100 kilometer dan lebar 30 kilometer yang terletak di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Danau ini merupakan danau terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Di tengah danau ini terdapat sebuah pulau vulkanik bernama Pulau Samosir. Diperkirakan Danau Toba terjadi saat ledakan sekitar 73.000-75.000 tahun yang lalu dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Danau Toba a</strong>dalah sebuah danau vulkanik dengan ukuran panjang 100 kilometer dan lebar 30 kilometer yang terletak di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Danau ini merupakan danau terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Di tengah danau ini terdapat sebuah pulau vulkanik bernama Pulau Samosir.</p>
<div id="attachment_291" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://www.candi.web.id/wp-content/uploads/2011/03/danau-toba01.jpg"><img class="size-full wp-image-291 " title="danau-toba01" src="http://www.candi.web.id/wp-content/uploads/2011/03/danau-toba01.jpg" alt="" width="600" height="450" /></a>
<p class="wp-caption-text">Gb. Danau Toba dengan pulau Samosir di tengahnya (Sumber Wikipedia)</p>
</div>
<p>Diperkirakan Danau Toba terjadi saat ledakan sekitar <strong>73.000-75.000 tahun yang lalu </strong>dan merupakan letusan <strong>supervolcano (gunung berapi super) </strong>yang paling baru. Bill Rose dan Craig Chesner dari Michigan Technological University memperkirakan bahwa bahan-bahan vulkanik yang dimuntahkan gunung itu sebanyak 2.800 km³, dengan 800 km³ batuan ignimbrit dan 2.000 km³ abu vulkanik yang diperkirakan tertiup angin ke barat selama 2 minggu. Debu vulkanik yang ditiup angin telah menyebar ke separuh bumi, dari Cina sampai ke Afrika Selatan. Letusannya terjadi selama 1 minggu dan lontaran debunya mencapai 10 km di atas permukaan laut.</p>
<p>Kejadian ini menyebabkan kematian massal dan pada beberapa spesies juga diikuti kepunahan. Menurut beberapa bukti DNA, letusan ini juga menyusutkan jumlah manusia sampai sekitar 60% dari jumlah populasi manusia bumi saat itu, yaitu sekitar 60 juta manusia. Letusan itu juga ikut menyebabkan terjadinya zaman es, walaupun para ahli masih memperdebatkannya.</p>
<p>Setelah letusan tersebut, terbentuk kaldera yang kemudian terisi oleh air dan menjadi yang sekarang dikenal sebagai Danau Toba. Tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar menyebabkan munculnya Pulau Samosir.</p>
<p>Tim peneliti multidisiplin internasional, yang dipimpin oleh Dr. Michael Petraglia, mengungkapkan dalam suatu konferensi pers di Oxford, Amerika Serikat bahwa telah ditemukan situs arkeologi baru yang cukup spektakuler oleh para ahli geologi di selatan dan utara India. Di situs itu terungkap bagaimana orang bertahan hidup, sebelum dan sesudah letusan gunung berapi (supervolcano) Toba pada 74.000 tahun yang lalu, dan bukti tentang adanya kehidupan di bawah timbunan abu Gunung Toba. Padahal sumber letusan berjarak 3.000 mil, dari sebaran abunya.</p>
<p>Selama tujuh tahun, para ahli dari oxford University tersebut meneliti projek ekosistem di India, untuk mencari bukti adanya kehidupan dan peralatan hidup yang mereka tinggalkan di padang yang gundul. Daerah dengan luas ribuan hektare ini ternyata hanya sabana (padang rumput). Sementara tulang belulang hewan berserakan. Tim menyimpulkan, daerah yang cukup luas ini ternyata ditutupi debu dari letusan gunung berapi purba.</p>
<p>Penyebaran debu gunung berapi itu sangat luas, ditemukan hampir di seluruh dunia. Berasal dari sebuah erupsi supervolcano purba, yaitu Gunung Toba. Dugaan mengarah ke Gunung Toba, karena ditemukan bukti bentuk molekul debu vulkanik yang sama di 2100 titik. Sejak kaldera kawah yang kini jadi danau Toba di Indonesia, hingga 3000 mil, dari sumber letusan. Bahkan yang cukup mengejutkan, ternyata penyebaran debu itu sampai terekam hingga Kutub Utara. Hal ini mengingatkan para ahli, betapa dahsyatnya letusan super gunung berapi Toba kala itu. Bukti-bukti yang ditemukan, memperkuat dugaan, bahwa kekuatan letusan dan gelombang lautnya sempat memusnahkan kehidupan di <strong>Atlantis. (</strong><em>Sumber: Wikipedia</em>)<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.candi.web.id%2Fdanau%2Fdanau-toba%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe><br />
<h4>Kata Kunci Dari Mesin Pencari :</h4>
<ul>
<li>danau toba</li>
<li>timbunan di nuswantara</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.candi.web.id/danau/danau-toba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gunung Lawu</title>
		<link>http://www.candi.web.id/gunung/gunung-lawu/</link>
		<comments>http://www.candi.web.id/gunung/gunung-lawu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Mar 2011 12:19:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Candi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gunung]]></category>
		<category><![CDATA[Lawu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.candi.web.id/?p=268</guid>
		<description><![CDATA[Gunung Lawu (3.265 m) terletak di Pulau Jawa, Indonesia, tepatnya di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Status gunung ini adalah gunung api &#8220;istirahat&#8221; dan telah lama tidak aktif, terlihat dari rapatnya vegetasi serta puncaknya yang tererosi. Di lerengnya terdapat kepundan kecil yang masih mengeluarkan uap air (fumarol) dan belerang (solfatara). Gunung Lawu memiliki [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gunung Lawu (3.265 m) terletak di Pulau Jawa, Indonesia, tepatnya di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Status gunung ini adalah gunung api &#8220;istirahat&#8221; dan telah lama tidak aktif, terlihat dari rapatnya vegetasi serta puncaknya yang tererosi. Di lerengnya terdapat kepundan kecil yang masih mengeluarkan uap air (fumarol) dan belerang (solfatara).</p>
<p><a href="http://www.candi.web.id/wp-content/uploads/2011/03/gununglawu01.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-270" title="gununglawu01" src="http://www.candi.web.id/wp-content/uploads/2011/03/gununglawu01.jpg" alt="" width="600" height="437" /></a></p>
<p>Gunung Lawu memiliki tiga puncak, Puncak Hargo Dalem, Hargo Dumiling dan Hargo Dumilah. Yang terakhir ini adalah puncak tertinggi.</p>
<p>Di lereng gunung ini terdapat sejumlah tempat yang populer sebagai tujuan wisata, terutama di daerah Tawangmangu, Cemorosewu, dan Sarangan. Agak ke bawah, di sisi barat terdapat dua komplek percandian dari masa akhir Majapahit: Candi Sukuh dan Candi Cetho.</p>
<p>Gunung Lawu sangat populer untuk kegiatan pendakian. Setiap malam 1 Surabanyak orang berziarah dengan mendaki hingga ke puncak. Karena populernya, di puncak gunung bahkan dapat dijumpai pedagang makanan.</p>
<p>Pendakian standar dapat dimulai dari dua tempat (<em>basecamp</em>): Cemorokandang di Tawangmangu, Jawa Tengah, serta Cemorosewu, di Sarangan, Jawa Timur. Gerbang masuk keduanya terpisah hanya 200 m.</p>
<p>Pendakian dari Cemorosewu melalui dua sumber mata air: Sendang (kolam) Panguripan terletak antara Cemorosewu dan Pos 1 dan Sendang Drajat di antara Pos 4 dan Pos 5.</p>
<p>Pendakian melalui Cemorokandang akan melewati 5 selter dengan jalur yang relatif telah tertata dengan baik.</p>
<p>Pendakian melalui cemorosewu akan melewati 5 pos. Jalur melalui Cemorosewu lebih nge-track. Akan tetapi jika kita lewat jalur ini kita akan sampai puncak lebih cepat daripada lewat jalur Cemorokandang. Pendakian melalui Cemorosewu jalannya cukup tertata dengan baik. Jalannya terbuat dari batu-batuan yang sudah ditata.</p>
<p>Jalur dari pos 3 menuju pos 4 berupa tangga yang terbuat dari batu alam. Pos ke4 baru direnovasi,jadi untuk saat ini di pos4 tidak ada bangunan untuk berteduh. Biasanya kita tidak sadar telah sampai di pos 4.</p>
<p>Di dekat pos 4 ini kita bisa melihat telaga Sarangan dari kejahuan. Jalur dari pos 4 ke pos 5 sangat nyaman, tidak nge-track seperti jalur yang menuju pos 4. Di pos2 terdapat watu gedhe yang kami namai watu iris(karena seperti di iris).</p>
<p>Di dekat pintu masuk Cemorosewu terdapat suatu bangunan seperti masjid yang ternyata adalah makam.Untuk mendaki melalui Cemorosewu(bagi pemula) janganlah mendaki di siang hari karena medannya berat untuk pemula.</p>
<p>Di atas puncak Hargo Dumilah terdapat satu tugu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.candi.web.id%2Fgunung%2Fgunung-lawu%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe><br />
<h4>Kata Kunci Dari Mesin Pencari :</h4>
<ul>
<li>gunung lawu</li>
<li>situs gunung lawu</li>
<li>gununglawu</li>
<li>trekking gunung lawu</li>
<li>pendakian ke gunung lawu bagi pemula lewat cemoro sewu</li>
<li>puncak gunung lawu</li>
<li>tujuan wisata di gunung lawu</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.candi.web.id/gunung/gunung-lawu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gunung Bromo</title>
		<link>http://www.candi.web.id/gunung/gunung-bromo/</link>
		<comments>http://www.candi.web.id/gunung/gunung-bromo/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Mar 2011 10:00:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Candi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gunung]]></category>
		<category><![CDATA[Bromo]]></category>
		<category><![CDATA[Kasada]]></category>
		<category><![CDATA[Kasodo]]></category>
		<category><![CDATA[Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Penciptaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.candi.web.id/?p=257</guid>
		<description><![CDATA[Gunung Bromo  merupakan gunung berapi yang masih aktif dan paling terkenal sebagai obyek wisata di Jawa Timur. Sebagai sebuah obyek wisata, Gunung Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif. Bromo mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut itu berada dalam empat wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gunung Bromo  merupakan gunung berapi yang masih aktif dan paling terkenal sebagai obyek wisata di Jawa Timur. Sebagai sebuah obyek wisata, Gunung Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif.</p>
<p><a href="http://www.candi.web.id/wp-content/uploads/2011/03/gunungbromo01.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-261" title="gunungbromo01" src="http://www.candi.web.id/wp-content/uploads/2011/03/gunungbromo01.jpg" alt="" width="600" height="318" /></a></p>
<p>Bromo mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut itu berada dalam empat wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang. Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi.</p>
<p>Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo.</p>
<p><strong>Kisah Penciptaan Manusia</strong></p>
<p>Dalam literatur jawa klasik, Gunung Bromo juga berhubungan dengan kisah penciptaan manusia seperti halnya <a title="Kisah Penciptaan Manusia di Gunung Wilis atau Gunung Pawinihan " href="http://www.candi.web.id/gunung/gunung-wilis/">Gunung Wilis atau Gunung Pawinihan</a>.</p>
<p><strong>Gunung Suci</strong></p>
<p>Bagi penduduk Bromo, suku Tengger, Gunung Brahma (Bromo) dipercaya sebagai gunung suci. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Kasodo. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.candi.web.id%2Fgunung%2Fgunung-bromo%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe><br />
<h4>Kata Kunci Dari Mesin Pencari :</h4>
<ul>
<li>gunung bromo</li>
<li>sejarah penciptaan manusia jawa</li>
<li>gunung bromo dan candi</li>
<li>sejarah penciptaan manusia</li>
<li>obyek wisata di jawa timur</li>
<li>Obyek wisata bromo</li>
<li>kisah bromo</li>
<li>gunung yang masih aktif</li>
<li>candi bromo</li>
<li>hikayat gunung pulau jawa</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.candi.web.id/gunung/gunung-bromo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gunung Wilis</title>
		<link>http://www.candi.web.id/gunung/gunung-wilis/</link>
		<comments>http://www.candi.web.id/gunung/gunung-wilis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Mar 2011 09:26:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Candi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gunung]]></category>
		<category><![CDATA[Pawinihan]]></category>
		<category><![CDATA[Wilis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.candi.web.id/?p=245</guid>
		<description><![CDATA[Gunung Wilis adalah sebuah gunung non-aktif yang terletak di Pulau Jawa, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Gunung Wilis ini asalnya bernama gunung Pawinihan. Gunung Wilis memiliki ketinggian 2552 meter. Puncaknya berada di perbatasan antara enam kabupaten yaitu Kediri, Tulungagung, Nganjuk, Madiun, Ponorogo, dan Trenggalek. Manusia Tercipta Dalam literatur klasik Jawa, Gunung Wilis atau Gunung Pawinihan memiliki [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Gunung Wilis</strong> adalah sebuah gunung non-aktif yang terletak di Pulau Jawa, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Gunung Wilis ini asalnya bernama gunung Pawinihan. Gunung Wilis memiliki ketinggian 2552 meter. Puncaknya berada di perbatasan antara enam kabupaten yaitu Kediri, Tulungagung, Nganjuk, Madiun, Ponorogo, dan Trenggalek.</em></p>
<p><a href="http://www.candi.web.id/wp-content/uploads/2011/03/gunungwilis01.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-250" title="gunungwilis01" src="http://www.candi.web.id/wp-content/uploads/2011/03/gunungwilis01.jpg" alt="" width="600" height="353" /></a></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>Manusia Tercipta</strong></p>
<p>Dalam literatur klasik Jawa, Gunung Wilis atau Gunung Pawinihan memiliki peran penting dalam sejarah terciptanya manusia.  Penggambaran kisah penciptaan manusia bersumber dari <a href="http://terrajawa.net/jagad_detail.php?artikel_id=27">Jagad Gumelar &#8211; Manusia Tercipta yang di tulis oleh Agung Bimo Sutejo dan Timmy Hartadi</a>, inilah kisahnya :</p>
<blockquote><p>Adalah Sang Hyang Batara Brama yang pertama kali menciptakan manusia, diambil dari tanah dan dibuat dengan kepalan tangannya, karena Sang Hyang Batara Brama adalah Dewa Api maka wujud manusia yang dibuat terlalu gosong, makanya kemudian disebut dengan Bangsa Keling. Proses penciptaan manusia pertama itu terjadi di daratan Jawa di Gunung Bromo, dan manusia yang diciptakan saat itu suhunya sangat panas untuk tinggal di dataran rendah sehingga mereka hanya dapat hidup di ketinggian yang suhunya lebih dingin.</p>
<p>Kemudian Sang Hyang Batara Wisnu juga menciptakan manusia dan terwujudlah sosok manusia yang lebih baik dan sempurna [seperti manusia sekarang ini], kejadian itu masih di daratan Jawa di GunungPawinihan [sekarang Gunung Wilis]. Tetapi saat itu manusia ciptaan Sang Hyang Batara Wisnu kondisi suhunya masih sama karena hanya mampu tinggal di tempat dingin. Manusia ciptaan itu menjadi rebutan dari para Hapsara dan Hapsari untuk dimomong oleh mereka.</p>
<p>Maka diaturlah agar manusia mempunyai keturunan dulu dan kemudian anak-anak mereka langsung di bawa oleh para Hapsara dan Hapsari untuk kemudian wajahnya dibentuk sesuai dengan wajah dari para Hapsara dan Hapsari yang memomongnya. Hal ini dilakukan agar Arcapada dapat dipenuhi oleh manusia untuk keseimbangan alam semesta.</p></blockquote>
<p><strong>Wisata</strong></p>
<p>Obyek wisata Gunung Wilis yang paling banyak adalah air terjun, namun belum begitu dikembangkan hingga saat ini. Daerah perbukitan Gunung Wilis pernah dilalui oleh Jendral Sudirman sebelum melakukan serangan sebelas maret ke Yogyakarta.</p>
<p><strong>Pendakian</strong></p>
<p>Untuk mendaki ke Gunung Wilis dari arah timur, pendakian dapat dimulai melalui Kabupaten Kediri tepatnya Kecamatan Mojo. Jalan menuju ke puncak gunung Wilis sudah dibangun memadai melalui Mojo. Sementara itu dari arah selatan Gunung Wilis dapat didaki dari Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung. Apabila ingin mencapai Gunung Wilis dari arah utara, pendakian dapat dimulai dari Kabupaten Nganjuk, sementara dari arah barat, pendakian dapat dimulai dari Kabupaten Ponorogo atau Kabupaten Madiun.</p>
<p><strong><br />
</strong><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.candi.web.id%2Fgunung%2Fgunung-wilis%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe><br />
<h4>Kata Kunci Dari Mesin Pencari :</h4>
<ul>
<li>Gunung wilis</li>
<li>sejarah gunung Wilis</li>
<li>cerita gunung wilis</li>
<li>gunung wilis kediri</li>
<li>legenda gunung wilis</li>
<li>Gunung Sadahurip Garut Jawa Barat</li>
<li>wisata gunung wilis</li>
<li>kisah gunung wilis jawatimur</li>
<li>gunung wilis dari nganjuk</li>
<li>pendakian gunung wilis</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.candi.web.id/gunung/gunung-wilis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Candi Pawon</title>
		<link>http://www.candi.web.id/candi/candi-pawon/</link>
		<comments>http://www.candi.web.id/candi/candi-pawon/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Mar 2011 15:12:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Candi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Candi]]></category>
		<category><![CDATA[Magelang]]></category>
		<category><![CDATA[Pawon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.candi.web.id/?p=232</guid>
		<description><![CDATA[Candi Pawon terletak di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah. Candi yang mempunyai nama lain Candi Brajanalan ini lokasinya sekitar 2 km ke arah timur laut dari Candi Borobudur dan 1 km ke arah tenggara dari Candi Mendut. Letak Candi Mendut, Candi Pawon dan Candi Borobudur yang berada pada satu garis lurus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Candi Pawon terletak di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah. Candi yang mempunyai nama lain Candi Brajanalan ini lokasinya sekitar 2 km ke arah timur laut dari Candi Borobudur dan 1 km ke arah tenggara dari Candi Mendut.</p>
<p><a href="http://www.candi.web.id/wp-content/uploads/2011/03/candipawon02.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-238" title="candipawon02" src="http://www.candi.web.id/wp-content/uploads/2011/03/candipawon02.jpg" alt="" width="600" height="779" /></a></p>
<p>Letak Candi Mendut, Candi Pawon dan Candi Borobudur yang berada pada satu garis lurus mendasari dugaan bahwa ketiga candi tersebut mempunyai kaitan yang erat. Selain letaknya, kemiripan motif pahatan di ketiga candi tersebut juga mendasari adanya keterkaitan di antara ketiganya. Poerbatjaraka, bahkan berpendapat bahwa candi Pawon merupakan upa angga (bagian dari) Candi Borobudur.</p>
<p>Nama &#8220;Pawon&#8221; sendiri, menurut sebagian orang, berasal dari kata pawuan  yang berarti tempat menyimpan awu (abu). Dalam ruangan di tubuh Candi Pawon, diperkirakan semula terdapat Arca Bodhhisatwa, sebagai bentuk penghormatan kepada Raja Indra yang dianggap telah mencapai tataran Bodhisattva, maka dalam candi ditempatkan arca Bodhisatwva. Dalam Prasasti Karang Tengah disebutkan bahwa arca tersebut mengeluarkan wajra (sinar). Pernyataan tersebut menimbulkan dugaan bahwa arca  tersebut dibuat dari perunggu.</p>
<p>Batur candi setinggi sekitar 1,5 m berdenah dasar persegi empat, namun tepinya dibuat berliku-liku membentuk 20 sudut. Dinding batur dihiasi pahatan dengan berbagai motif, seperti bunga dan sulur-suluran. Bentuk tubuh Candi Pawon ramping.</p>
<p>Pintu masuk ke ruangan dalam tubuh candi terletak di sisi barat. Di atas ambang pintu terdapat hiasan Kalamakara tanpa rahang bawah.Tangga menuju selasar dilengkapi dengan pipi tangga dengan pahatan pada dinding luarnya. Hiasan kepala naga di pangkal pipi tangga sudah rusak. Ruangan dalam tubuh candi saat ini berada dalam keadaan kosong, namun pada lantai terlihat bekas yang menunjukkan bahwa tadinya terdapat arca di tempat tersebut.</p>
<p>Pada dinding bagian depan  candi, di sebelah utara dan selatan pintu masuk, terdapat relung yang berisi pahatan yang menggambarkan Kuwera (Dewa Kekayaan) dalam posisi berdiri. Pahatan yang terdapat di selatan pintu sudah rusak sehingga tidak terlihat lagi wujud aslinya. Pahatan yang di utara pintu relatif masih utuh, hanya bagian kepala saja yang sudah hancur.</p>
<p>Pada dinding utara dan selatan candi terdapat relief yang sama, yaitu yang menggambarkan Kinara dan Kinari, sepasang burung berkepala manusia, berdiri mengapit pohon kalpataru yang tumbuh dalam sebuah jambangan. Di sekeliling pohon terletak beberapa pundi-pundi uang. Di langit tampak sepasang manusia yang sedang terbang. Di bagian atas dinding terdapat sepasang jendela kecil yang berfungsi sebagai ventilasi. Di antara kedua lubang ventilasi tersebut terdapat pahatan kumuda.</p>
<p>Atap candi berbentuk persegi bersusun dengan hiasan beberapa dagoba (kubah) kecil di masing-masing sisinya. Puncak atap dihiasi dengan sebuah dagoba yang lebih besar.</p>
<p>Sumber: pnri.go.id</p>
<p>&nbsp;<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.candi.web.id%2Fcandi%2Fcandi-pawon%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe><br />
<h4>Kata Kunci Dari Mesin Pencari :</h4>
<ul>
<li>candi pawon</li>
<li>candi mendut dan keterangannya</li>
<li>candi borobudur mendut pawon</li>
<li>candi beserta</li>
<li>Nama-nama candi dan keterangannya</li>
<li>mendut borobudur pawon</li>
<li>borobudur pawon mendut</li>
<li>bagian bagian candi mendut</li>
<li>keterangan tentang candi borobudur</li>
<li>mendut-pawon-borobudur</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.candi.web.id/candi/candi-pawon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Candi Mendut</title>
		<link>http://www.candi.web.id/candi/candi-mendut/</link>
		<comments>http://www.candi.web.id/candi/candi-mendut/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Mar 2011 14:49:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Candi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Candi]]></category>
		<category><![CDATA[Mendut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.candi.web.id/?p=226</guid>
		<description><![CDATA[Candi Mendut terletak di Desa Mendut, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sekitar 38 km ke arah barat laut dari Yogyakarta. Lokasinya hanya sekitar 3 km dari Candi Borobudur. Candi Mendut ini memiliki keterkaitan dengan Candi Borobudur dan Candi Pawon. Ketiga candi tersebut terletak pada satu garis lurus arah utara-selatan. Belum didapatkan kepastian mengenai kapan Candi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Candi Mendut </strong>terletak di Desa Mendut, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sekitar 38 km ke arah barat laut dari Yogyakarta. Lokasinya hanya sekitar 3 km dari Candi Borobudur. </em></p>
<p><a href="http://www.candi.web.id/wp-content/uploads/2011/03/candimendut01.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-230" title="candimendut01" src="http://www.candi.web.id/wp-content/uploads/2011/03/candimendut01.jpg" alt="" width="600" height="391" /></a></p>
<p>Candi Mendut ini memiliki keterkaitan dengan Candi Borobudur dan Candi Pawon. Ketiga candi tersebut terletak pada satu garis lurus arah utara-selatan.</p>
<p>Belum didapatkan kepastian mengenai kapan Candi Mendut dibangun, namun J.G. de Casparis menduga bahwa Candi Mendut dibangun oleh raja pertama dari wangsa Syailendra pada tahun 824 M. Dugaan tersebut didasarkan pada isi Prasasti Karangtengah (824 M), yang menyebutkan bahwa Raja Indra telah membuat bangunan suci bernama Wenuwana. Casparis mengartikan Wenuwana (hutan bambu) sebagai Candi Mendut. Diperkirakan usia candi Mendut lebih tua daripada usia Candi Borobudur.</p>
<p>Candi Mendut memiliki denah dasar berbentuk segi empat. Tinggi bangunan seluruhnya 26,40 m. Tubuh candi ini berdiri di atas batur setinggi sekitar 2 m. Di permukaan batur terdapat selasar yang cukup lebar dan dilengkapi dengan langkan. Dinding kaki candi dihiasi dengan 31 buah panel yang memuat berbagai relief cerita, pahatan bunga dan sulur-suluran yang indah.</p>
<p>Di beberapa tempat di sepanjang dinding luar langkan terdapat jaladwara atau saluran untuk membuang air dari selasar. Jaladwara terdapat di kebanyakan candi di Jawa Tengah dan Yogyakarta, seperti di Candi Barabudhur, Candi Banyuniba, Candi Prambanan dan di Situs Ratu Boko. Jaladwara di setiap candi memiliki bentuk yang berbeda-beda.</p>
<p>Tangga menuju selasar terletak di sisi barat, tepat di depan pintu masuk ke ruangan dalam tubuh candi. Pintu masuk ke ruangan dalam tubuh candi dilengkapi dengan bilik penampil yang menjorok keluar. Atap bilik penampil sama tinggi dan menyatu dengan atap tubuh candi. Tidak terdapat gapura atau bingkai pintu pada dinding depan bilik penampil. Bilik itu sendiri berbentuk lorong dengan langit-langit berbentuk rongga memanjang dengan penampang segi tiga.</p>
<p>Dinding pipi tangga dihiasi dengan beberapa panil berpahat yang menggambarkan berbagai cerita. Pangkal pipi tangga dihiasi dengan sepasang kepala naga yang mulutnya sedang menganga lebar, sementara di dalam mulutnya terdapat seekor binatang yang mirip singa. Di bawah kepala naga terdapat panil begambar makhluk kerdil mirip Gana.</p>
<p>Atap candi itu terdiri dari tiga kubus yang disusun makin ke atas makin kecil, mirip atap candi-candi di Komplek Candi Dieng dan Gedongsongo. Di sekeliling kubus-kubus tersebut dihiasi dengan 48 stupa kecil. Puncak atap sudah tidak tersisa sehingga tidak diketahui lagi bentuk aslinya.</p>
<p>Di sudut selatan, di halaman samping Candi Mendut terdapat batu-batu reruntuhan yang sedang diidentifikasi dan dicoba untuk direkonstruksi.</p>
<p>sumber : pnri.go.id</p>
<p>&nbsp;<iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.candi.web.id%2Fcandi%2Fcandi-mendut%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe><br />
<h4>Kata Kunci Dari Mesin Pencari :</h4>
<ul>
<li>sejarah candi mendut</li>
<li>candi mendut</li>
<li>GAMBAR candi</li>
<li>artikel candi mendut</li>
<li>gambar candi pawon</li>
<li>GAMBAR CANDI MENDUT</li>
<li>gambar dan berita candi borobudur</li>
<li>legenda candi mendut</li>
<li>usia candi borobudur</li>
<li>gambar candi candi</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.candi.web.id/candi/candi-mendut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Candi Borobudur</title>
		<link>http://www.candi.web.id/candi/candi-borobudur/</link>
		<comments>http://www.candi.web.id/candi/candi-borobudur/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Mar 2011 17:40:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Candi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Candi]]></category>
		<category><![CDATA[Prasasti]]></category>
		<category><![CDATA[Borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[Kahulunan]]></category>
		<category><![CDATA[Karangtengah]]></category>
		<category><![CDATA[Smaratungga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.candi.web.id/?p=183</guid>
		<description><![CDATA[Candi Borobudur terletak di Borobudur Magelang, Jawa Tengah. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi ini didirikan sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Berdasarkan Prasasti Karangtengah dan Kahulunan, Casparis memperkirakan pendiri Borobudur adalah raja Mataram dari wangsa Syailendra bernama Samaratungga, yang melakukan pembangunan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Candi Borobudur</strong> terletak di Borobudur Magelang, Jawa Tengah. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi ini didirikan sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra.</p>
<p><a href="http://www.candi.web.id/wp-content/uploads/2011/03/borobudur01.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-187" title="borobudur01" src="http://www.candi.web.id/wp-content/uploads/2011/03/borobudur01.jpg" alt="" width="600" height="236" /></a></p>
<p>Berdasarkan<strong> Prasasti Karangtengah</strong> dan <strong>Kahulunan</strong>, Casparis memperkirakan pendiri Borobudur adalah raja Mataram dari wangsa Syailendra bernama Samaratungga, yang melakukan pembangunan sekitar tahun 824 M. Bangunan raksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramodhawardhani.  Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad. Dalam prasasti Karangtengah pula disebutkan mengenai penganugerahan tanah <em>sima</em> (tanah bebas pajak) oleh Çrī Kahulunan (Pramodawardhani) untuk memelihara <em>Kamūlān</em> yang disebut <em>Bhūmisambhāra</em>. Istilah <em>Kamūlān</em> sendiri berasal dari kata <em>mula</em> yang berarti tempat asal muasal, bangunan suci untuk memuliakan leluhur, kemungkinan leluhur dari wangsa Sailendra.</p>
<p><strong>Informasi Baru Tentang  Maha Prabu Smaratungga</strong></p>
<blockquote><p><em>Menurut Timmy Hartadi dari Turangga Seta , Sang Maha Prabu Dharma Maya adalah raja dari Kerajaan Medang Nimrata, nama lain beliau adalah Syailendra atau Smaratungga. Dan Borobudur adalah Candi Pamoksaannya. Putra Sang Maha Prabu Dharma Maya bernama  Pangeran Samara Wijaya yang kraton ksatriannya bernama Ksatrian  Mentaram, kelak pada jaman setelah Pajang tempat itulah yang dikenal  dengan Alas Mentaok dan dibangun menjadi kraton Mentaram (Mataram) oleh  Panembahan Senopati.</em></p></blockquote>
<p><strong>Proses Pemugaran Candi Borobudur</strong></p>
<ul>
<li>1814 &#8211; Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Britania Raya di Jawa, mendengar adanya penemuan benda purbakala di desa Borobudur. Raffles memerintahkan H.C. Cornelius untuk menyelidiki lokasi penemuan, berupa bukit yang dipenuhi semak belukar.</li>
<li>1873 &#8211; monografi pertama tentang candi diterbitkan.</li>
<li>1900 &#8211; pemerintahan Hindia Belanda menetapkan sebuah panitia pemugaran dan perawatan candi Borobudur.</li>
<li>1907 &#8211; Theodoor van Erp memimpin pemugaran hingga tahun 1911.</li>
<li>1926 &#8211; Borobudur dipugar kembali, tapi terhenti pada tahun 1940 akibat krisis malaise dan Perang Dunia II.</li>
<li>1956 &#8211; Pemerintah Indonesia meminta bantuan UNESCO. Prof. Dr. C. Coremans datang ke Indonesia dari Belgia untuk meneliti sebab-sebab kerusakan Borobudur.</li>
<li>1963 &#8211; Pemerintah Indonesia mengeluarkan surat keputusan untuk memugar Borobudur, tapi berantakan setelah terjadi peristiwa G-30-S.</li>
<li>1968 &#8211; Pada konferensi-15 di Perancis, UNESCO setuju untuk memberi bantuan untuk menyelamatkan Borobudur.</li>
<li>1971 &#8211; Pemerintah Indonesia membentuk badan pemugaran Borobudur yang diketuai Prof.Ir.Roosseno.</li>
<li>1972 &#8211; International Consultative Committee dibentuk dengan melibatkan berbagai negara dan Roosseno sebagai ketuanya. Komite yang disponsori UNESCO menyediakan 5 juta dolar Amerika Serikat dari biaya pemugaran 7.750 juta dolar Amerika Serikat. Sisanya ditanggung Indonesia.</li>
<li>10 Agustus 1973 &#8211; Presiden Soeharto meresmikan dimulainya pemugaran Borobudur; pemugaran selesai pada tahun 1984</li>
<li>21 Januari 1985 &#8211; terjadi serangan bom yang merusakkan beberapa stupa pada Candi Borobudur yang kemudian segera diperbaiki kembali. Serangan dilakukan oleh kelompok Islam ekstremis yang dipimpin oleh Husein Ali Al Habsyi.</li>
<li>1991 &#8211; Borobudur ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO.</li>
</ul>
<div class="ngg-galleryoverview" id="ngg-gallery-6-183">
<p>	<!-- Slideshow link --></p>
<div class="slideshowlink">
		<a class="slideshowlink" href="http://www.candi.web.id/candi/candi-borobudur/?show=slide"><br />
			[Show as slideshow]		</a>
	</div>
<p>	<!-- Thumbnails --></p>
<div id="ngg-image-42" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://www.candi.web.id/wp-content/gallery/candi-borobudur/borobudurmandala01b.jpg" title="Ilustrasi Borobudur jika dilihat dari atas" class="shutterset_set_6" ><br />
								<img title="borobudurmandala01b" alt="borobudurmandala01b" src="http://www.candi.web.id/wp-content/gallery/candi-borobudur/thumbs/thumbs_borobudurmandala01b.jpg" width="100" height="75" /><br />
							</a>
		</div>
</p></div>
<div id="ngg-image-43" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://www.candi.web.id/wp-content/gallery/candi-borobudur/borobudur02.jpg" title="Foto pertama Borobudur dari tahun 1873." class="shutterset_set_6" ><br />
								<img title="borobudur02" alt="borobudur02" src="http://www.candi.web.id/wp-content/gallery/candi-borobudur/thumbs/thumbs_borobudur02.jpg" width="100" height="75" /><br />
							</a>
		</div>
</p></div>
<div id="ngg-image-44" class="ngg-gallery-thumbnail-box"  >
<div class="ngg-gallery-thumbnail" >
			<a href="http://www.candi.web.id/wp-content/gallery/candi-borobudur/borobudurarca01.jpg" title="Maha Prabu Smaratungga" class="shutterset_set_6" ><br />
								<img title="borobudurarca01" alt="borobudurarca01" src="http://www.candi.web.id/wp-content/gallery/candi-borobudur/thumbs/thumbs_borobudurarca01.jpg" width="100" height="75" /><br />
							</a>
		</div>
</p></div>
<p>	<!-- Pagination --></p>
<div class='ngg-clear'></div>
</div>
<p><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fwww.candi.web.id%2Fcandi%2Fcandi-borobudur%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light&amp;height=80" scrolling="no" frameborder="0" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:80px;" allowTransparency="true"></iframe><br />
<h4>Kata Kunci Dari Mesin Pencari :</h4>
<ul>
<li>turangga seta</li>
<li>prasasti candi bolobudur</li>
<li>nama lain borobudur</li>
<li>timmy hartadi</li>
<li>nama lain candi borobudur</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.candi.web.id/candi/candi-borobudur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

